BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bertambahnya
jumlah populasi di dunia, memungkinkan peningkatan berbagai macam kondisi dan
keadaan serta tindakan yang menyebabkan banyak penyakit berkembang akibat
perubahan gaya hidup, kebiasaan, dan pemahaman terkait kesehatan. Adanya
perubahan tersebut mengakibatkan semua orang menjadi rentan terhadap penyakit.
Khususnya pada individu dengan keadaan khusus, seperti ibu hamil dan penderita penyakit bawaan. Hal itu, tentunya mempengaruhi pada semua sistem yang ada di dalam tubuh individu tersebut. Salah
satu penyakit yang dapat timbul yaitu infeksi saluran kemih (ISK). Dengan
adanya peningkatan jumlah populasi khususnya di Indonesia, seperti yang
dipaparkan diatas. Sehingga penulis ingin memberikan sedikit gambaran
terkait ISK. Pada umumnya ISK atau infeksi saluran kemih ini banyak terjadi
pada wanita, hal itu kemungkinan besar dikarenakan uretra wanita lebih pendek
sehingga mikroorganisme dari luar lebih mudah mencapai kandung kemih dan juga
letaknya dekat dengan daerah perianal dan vagina.
Infeksi Saluran
Kemih (ISK) juga menjadi suatu komplikasi pada saat masa nifas hal itu
dikarenakan berbagai faktor penyebab baik langsung ataupun tidak langsung pada
ibu nifas. Saluran kencing yang pendek pada perempuan dan kebersihan daerah
sekitar kelamin luar yang menjadi bagian yang sulit dipantau pada
perempuan hamil akan mempermudah ISK. ISK postpartum adalah infeksi
bakteri pada traktus urinarius, terjadi sesudah melahirkan, ditandai
kenaikan suhu sampai 38 derajat celcius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari
pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama.
Keperawatan memiliki peran penting dalam memberikan pelayanannya terhadap
klien yang menderita ISK, sehingga perlu pemahaman yang baik tentang konsep ISK
pada klien serta asuhan keperawatan yang dapat diberikan pada klien yang
menderita ISK dengan harapan perawat dapat menjalankan perannya dalam
memberikan asuhan dengan baik dan benar
Setelah melahirkan pasien wanita
mengalami peningkatan resiko untuk mengalami masalah kemih karena diuresis pos
partum normal, penurunan sensitivitas kandung kemih, dan kemungkinan
terhambatnya persyarafan setelah anestesia. Yang mungkin mengalami kesulitan
berkemih karena trauma jaringan, pembengkakan, dan nyeri perineal. Kemih dalam
jumlah sedikit dan dengan interval sering, menandakan retensi dengan aliran
yang berlebihan. Bila urine tertahan maka akan menjadi pertumbuhan bakteri yang
amat baik dan kemungkinan terjadi ISK pada ibu hamil.
B.
Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas,
tujuan dari penulisan makalah dengan pembahasan mengenai Infeksi Sauran
Kemih pada Klien Post Partum ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui anatomi dan fisiologi
sistem reproduksi;
2. Mengetahui definisi dari infeksi
saluran kemih pada klien post partum;
3. Mengetahui epidemiologi terjadinya
infeksi saluran kemih pada klien post partum;
4. Mengetahui etiologi terjadinya
infeksi saluran kemih pada klien post partum;
5. Mengetahui tanda dan gejala infeksi
saluran kemih pada klien post partum;
6. Mengetahui patofisiologi infeksi
saluran kemih pada klien post partum;
7. Mengetahui cara pencegahan infeksi
saluran kemih pada klien post partum;
8. Mengetahui cara pengobatan dari
infeksi saluran kemih pada klien post partum;
9. Mengetahui asuhan keperawatan untuk
pasien post partum dengan infeksi saluran kemih
C.
Manfaat
1. Bagi Pembaca
Memberikan pengetahuan dan informasi
mengenai pemeliharaan kesehatan manusia terutama pada wanita dengan komplikasi
infeksi saluran kemih saat postpartum sehingga dapat meningkatkan
pemeliharaan kesehatan. Serta dapat mengurangi angka kejadian ISK.
2. Bagi Penyusun
Memberikan informasi sekaligus
pemahaman yang lebih terhadap penyusun sehingga nantinya dapat menerapkan
dalam praktik klinik tentang konsep keperawatan mengenai infeksi saluran kemih
khususnya pada wanita postpartum.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
ISK adalah infeksi akibat
berkembang biaknya mikroorganisme di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan
normal air kemih tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain.
Infeksi
Saluran Kemih adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih.
(Enggram, Barbara, 1998).
Infeksi
saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang terjadi pada saluran kemih.
Kejadian infeksi saluran kemih pada masa nifas relative tinggi dan hal
ini dihubungkan dengan hipotoni kandung kemih akibat trauma kandung kemih
waktupersalinan, pemeriksaan dalam yang sering, kontaminasi kuman dari
perineum, atau katerisasi yang sering (Krisnadi, 2005).
B.
Penyebab
Sebagian besar ISK
diawali dan disebabkan oleh bakteri Eschericia
Coli (80%-90%). Sebagian besar sisa kasus ISK disebabkan oleh Staphylococcus saprophyticus dan C. Trachomatis
ISK dapat terjadi setelah
kelahiran dari hipotonia kandung kemih, stasis kencing, luka kelahiran,
kateterisasi, pemeriksaan vagina yang rutin, atau obat bius epidural. Selama
kelahiran, kandung kemih dan uretra terluka dengan tekanan janin yang turun.
Setelah kelahiran, kandung kemih dan uretra yang hipotonik dapat meningkatkan
stasis perkemihan dan retensi urin.
C.
Manifestasi klinis
· Disuria
· Urgensi perkemihan
· Sering bekemih
· Warna yang tidak biasa pada urin
· Leikositosis
· Kram pada area suprapubis
· Nyeri pada punggung bawah sampai
tengah
· Demam
· Anoreksia
· Mual, muntah
· Malaise
D.
Patofisiologi
Terdapat 2 hal utama mengapa ISK dapat
terjadi:
1. Rute
infeksi
Terdapat 3 rute invasi bakteri ke dalam saluran kemih, antara
lain:
·
Ascending route : Bakteri periurethral melalui uretra
bermigrasi ke atas menuju vesika urinaria yang jika terus berlanjut dapat
mencapai ureter hingga ginjal. Dapat pula terjadi akibat aktivitas seksual atau
pada pemasangan kateter yang tidak higienis.
·
Hematogenik : Sering kali disebabkan oleh
Staphylococcus aureus; Sering ditemukan pada pasien immunocompromised
·
Lymphogenic : Rute infeksi ini masih memiliki bukti
scientific yang minimal.
2. Host-defence
Normalnya, ISK dapat dicegah dengan adanya proses wash-out
oleh saluran kemih sehingga bakteri-bakteri yang ada dapat dikeluarkan melalui
urin. Di dalam urin juga terdapat pH, osmolalitas, dan kadar urea yang dapat
menghambat perkembangan bakteri.Jika
mekanisme pertahanan host tersebut terganggu, misalkan akibat retensi urin,
statis atau refluks urin, bakteri-bakteri tersebut dapat berkembang biak dan
berkolonisasi sehingga bisa menimbulkan infeksi.
E.
Penatalaksanaan Keperawatan
1. Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan
Nyeri dan ketidaknyamanan dapat dikurangi dengan ketika
antimikrobia dimulai. Agen antispamodic mebantu dalam mengurangi iritabilitas
kandung kemih dan nyeri. Aspirin, pemanasan perineum dan mandi rendam panas
membantu mengurangi ketidaknyamanan dan spasme.
2. Mengurangi frekuensi (berkemih),
urgency dan hesitancy
Pasien didorong untuk minum dengan bebas sejumlah cairan (air
adalah pilihan terbaik) untuk mendukung aliran darah renal dan untuk membilas
bakteri dari traktur urinarius. Hidari cairan yang dapat mengiritasi kandung
kemih (misal ; kopi, teh, cola, alkohol).
3. Pendidikan pasien
Pasien harus menerima perncian instruksi berikut :
a. Mengurangi konsentrasi patogen pada
orifisium vagina (khusus pada wanita) melalui tindakan hygnie : seing mandi
pancuran dari pada rendam karena bakteri dalam air bak dapat masuk ke uretra,
bersihkan sekeliling perineum dan meatus uretra setiap selesai defekasi dengan
gerakan dari depan ke belakang.
b. Minum dengan bebas sejumlah cairan
dalam sehari untuk membilas keluar bakteri dan hindari untuk minum kopi, teh,
cola dan alkohol.
c. Berkemih setiap 2-3 jam dalam sehari
dan kosongkan kandung kemih dengan sempurna hal ini mencegah distensi kandung
kemih yang berlebihan dan gangguan terhadap suplai darah ke dinding kandung
kemih yang merupakan predisposisi systitis.
d. jika bakteri tetap muncul dalam urin,
terapi antimikrobia jangka panjang diperlukan untuk mencegah kolonisasi area
periuretral dan kekambuhan infeksi.
e. Konsul ke tenaga kesehatan secara
teratur untuk tindak lanjut, kekambuhan gejala atau infeksi nonresponsif
terhadap penanganan.
F.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Urinalisis
·
Leukosuria
atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria
positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment
air kemih
·
Hematuria:
hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih.
Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan
glomerulus ataupun urolitiasis.
2. Bakteriologis
· Mikroskopis
· Biakan bakteri
3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya
organisme spesifik
4. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000
koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen
dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
5. Metode tes
·
Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes
esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes
esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat,
Griess positif jika terdapat bakteri yang
mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
·
Tes Penyakit
Menular Seksual (PMS):
·
Uretritia
akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis,
neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).
·
Tes- tes
tambahan:
·
Urogram
intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat
dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus
urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie
prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur
urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi
yang resisten.
G.
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe
b. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko:
· Adakah riwayat infeksi sebelumnya?
· Adakah riwayat obstruksi pada saluran kemih?
c. Adanya faktor predisposisi pasien terhadap
infeksi nosokomial
· Bagaimana dengan pemasangan folley kateter ?
· Imobilisasi dalam waktu yang lama.
· Apakah terjadi inkontinensia urine?
d. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi
saluran kemih
·
Bagaimana
pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK
pasien (dorongan, frekuensi, dan jumlah)
·
Adakah
disuria?
·
Adakah
urgensi?
·
Adakah
hesitancy?
·
Adakah bau
urine yang menyengat?
·
Bagaimana
haluaran volume orine, warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine?
·
Adakah
nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah
·
Adakah nyesi
pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas
·
Peningkatan
suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas.
e. Pengkajian psikologi pasien:
·
Bagaimana
perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan?
Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya.
2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin
Muncul
·
Nyeri
Berhubungan dengan ISK
·
Perubahan
Eliminasi Urine
·
Defisit
Pengetahuan yang Berhubungan dengan Terapi dan Pencegahan ISK
·
Ansietas
mengenai efek ISK
Rencana Keperawatan :
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Perencanaan
|
||
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
||
1.
|
Nyeri
Berhubungan dengan agen cedra biologis
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam klien diharapkan dapat
mencapai pain control dengan kriteria hasil :
-
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik
non farmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) dari skala ... ke
...
-
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
dari skala ... ke ...
-
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) dari skala ...
ke ...
-
Mengatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang dari skala ... ke ...
-
TTV dalam rentang normal dari skala ... ke ...
-
|
Pain
manajemen :
1.
lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2.
observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
3.
gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
4.
kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
5.
evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.
|
1.
untuk menentukan tindakan selanjutnya terkait nyeri.
2.
untuk mengetahui apakah reaksi verbal yang dinyatakan sesuai dengan reaksi non
verbal.
3.
supaya klien merasa nyaman saat berinteraksi , sehingga lebih mudah
mendapatkan informasi.
4.
untuk mengetahui apa yang menyebabkan timbulnya nyeri, sehingga dapat
menentukan tindak lanjut.
5.
supaya dapat membandingkan antara nyeri yang sedang dialami dengan nyeri masa
lampau.
|
2.
|
Perubahan
Eliminasi Urine berhubungan dengan ISK
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam klien diharapkan dapat
mencapai urinary elimination dengan kriteria hasil:
-
Pola eliminasi dari skala ... ke ...
-
Bau urine dari skala ... ke ...
-
Jumlah urine dari skala ... ke ...
-
Warna urine dari skala ... ke ...
-
Kejernihan urine dari skala ... ke ...
-
Asupan cairan dari skala ... ke ...
-
Disuria dari skala ... ke ...
-
Urgensi perkemihan dari skala ... ke ...
|
Urinary
elimination management:
1. Memonitor eliminasi urine termasuk
frekuensi, bau, volume, dan warna
2. Memonitor tanda dan gejala retensi
urine
3. Beri tahu pasien tanda dan gejala
ISK pasien
4. Anjurkan pasien untuk memantau
keluaran urine
5. Rujuk ke dokter jika tanda dan
gejala ISK terjadi.
|
1. Untuk mengetahui warna, frekuensi,
bau, volume, dan warna
2. Untuk mengetahui tanda dan gejala
retensi urine
3. Supaya pasien mengetahui tanda dan
gejala ISK
4. Agar pasien untuk mengetahui
seberapa banyak dan seberapa sering keluaran urine
5. Untuk mendapatkan penanganan segera
bila terjadi ISK.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar