Valentine's Day Pumping Heart
Selamat Datang!!

Selasa, 19 Januari 2016

ASKEP pada ibu post partum dengan ISK


BAB I

PENDAHULUAN



A.       Latar Belakang



Bertambahnya jumlah populasi di dunia, memungkinkan peningkatan berbagai macam kondisi dan keadaan serta tindakan yang menyebabkan banyak penyakit  berkembang akibat perubahan gaya hidup, kebiasaan, dan pemahaman terkait kesehatan. Adanya perubahan tersebut mengakibatkan semua orang menjadi rentan terhadap penyakit. Khususnya pada individu dengan keadaan khusus, seperti ibu hamil dan penderita penyakit bawaan. Hal itu, tentunya mempengaruhi  pada semua sistem yang ada di dalam tubuh individu tersebut. Salah satu penyakit yang dapat timbul yaitu infeksi saluran kemih (ISK). Dengan adanya peningkatan  jumlah populasi khususnya di Indonesia, seperti yang dipaparkan diatas. Sehingga  penulis ingin memberikan sedikit gambaran terkait ISK. Pada umumnya ISK atau infeksi saluran kemih ini banyak terjadi pada wanita, hal itu kemungkinan besar dikarenakan uretra wanita lebih pendek sehingga mikroorganisme dari luar lebih mudah mencapai kandung kemih dan juga letaknya dekat dengan daerah perianal dan vagina.


Infeksi Saluran Kemih (ISK) juga menjadi suatu komplikasi pada saat masa nifas hal itu dikarenakan berbagai faktor penyebab baik langsung ataupun tidak langsung pada ibu nifas. Saluran kencing yang pendek pada perempuan dan kebersihan daerah sekitar kelamin luar yang menjadi bagian yang sulit dipantau  pada perempuan hamil akan mempermudah ISK. ISK postpartum adalah infeksi  bakteri pada traktus urinarius, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat celcius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca  persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama. Keperawatan memiliki peran  penting dalam memberikan pelayanannya terhadap klien yang menderita ISK, sehingga perlu pemahaman yang baik tentang konsep ISK pada klien serta asuhan keperawatan yang dapat diberikan pada klien yang menderita ISK dengan harapan  perawat dapat menjalankan perannya dalam memberikan asuhan dengan baik dan  benar

Setelah melahirkan pasien wanita mengalami peningkatan resiko untuk mengalami masalah kemih karena diuresis pos partum normal, penurunan sensitivitas kandung kemih, dan kemungkinan terhambatnya persyarafan setelah anestesia. Yang mungkin mengalami kesulitan berkemih karena trauma jaringan, pembengkakan, dan nyeri perineal. Kemih dalam jumlah sedikit dan dengan interval sering, menandakan retensi dengan aliran yang berlebihan. Bila urine tertahan maka akan menjadi pertumbuhan bakteri yang amat baik dan kemungkinan terjadi ISK pada ibu hamil.







B.      Tujuan



Berdasarkan latar belakang diatas, tujuan dari penulisan makalah dengan  pembahasan mengenai Infeksi Sauran Kemih pada Klien Post Partum ini adalah sebagai berikut.

1.      Mengetahui anatomi dan fisiologi sistem reproduksi;

2.      Mengetahui definisi dari infeksi saluran kemih pada klien post partum;

3.      Mengetahui epidemiologi terjadinya infeksi saluran kemih pada klien post  partum;

4.      Mengetahui etiologi terjadinya infeksi saluran kemih pada klien post  partum;

5.      Mengetahui tanda dan gejala infeksi saluran kemih pada klien post partum;

6.      Mengetahui patofisiologi infeksi saluran kemih pada klien post partum;

7.      Mengetahui cara pencegahan infeksi saluran kemih pada klien post  partum;

8.      Mengetahui cara pengobatan dari infeksi saluran kemih pada klien post  partum;

9.      Mengetahui asuhan keperawatan untuk pasien post partum dengan infeksi saluran kemih



C.      Manfaat



1.    Bagi Pembaca

Memberikan pengetahuan dan informasi mengenai pemeliharaan kesehatan manusia terutama pada wanita dengan komplikasi infeksi saluran kemih saat postpartum sehingga dapat meningkatkan  pemeliharaan kesehatan. Serta dapat mengurangi angka kejadian ISK.



2.    Bagi Penyusun

Memberikan informasi sekaligus pemahaman yang lebih terhadap  penyusun sehingga nantinya dapat menerapkan dalam praktik klinik tentang konsep keperawatan mengenai infeksi saluran kemih khususnya pada wanita postpartum.










BAB II

PEMBAHASAN



A.       Definisi

ISK adalah infeksi akibat berkembang biaknya mikroorganisme di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal air kemih tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain.

Infeksi Saluran Kemih adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998).

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang terjadi pada saluran kemih.  Kejadian infeksi saluran kemih pada masa nifas relative tinggi dan hal ini dihubungkan dengan hipotoni kandung kemih akibat trauma kandung kemih waktupersalinan, pemeriksaan dalam yang sering, kontaminasi kuman dari perineum, atau katerisasi yang sering (Krisnadi, 2005).



B.        Penyebab

Sebagian besar ISK diawali dan disebabkan oleh bakteri Eschericia Coli (80%-90%). Sebagian besar sisa kasus ISK disebabkan oleh Staphylococcus saprophyticus dan C. Trachomatis

ISK dapat terjadi setelah kelahiran dari hipotonia kandung kemih, stasis kencing, luka kelahiran, kateterisasi, pemeriksaan vagina yang rutin, atau obat bius epidural. Selama kelahiran, kandung kemih dan uretra terluka dengan tekanan janin yang turun. Setelah kelahiran, kandung kemih dan uretra yang hipotonik dapat meningkatkan stasis perkemihan dan retensi urin.

C.        Manifestasi klinis

·       Disuria

·       Urgensi perkemihan

·       Sering bekemih

·       Warna yang tidak biasa pada urin

·       Leikositosis

·       Kram pada area suprapubis

·       Nyeri pada punggung bawah sampai tengah

·       Demam

·       Anoreksia

·       Mual, muntah

·       Malaise



D.     Patofisiologi

  Terdapat 2 hal utama mengapa ISK dapat terjadi:

1.      Rute infeksi

Terdapat 3 rute invasi bakteri ke dalam saluran kemih, antara lain:

·         Ascending route : Bakteri periurethral melalui uretra bermigrasi ke atas menuju vesika urinaria yang jika terus berlanjut dapat mencapai ureter hingga ginjal. Dapat pula terjadi akibat aktivitas seksual atau pada pemasangan kateter yang tidak higienis.

·         Hematogenik : Sering kali disebabkan oleh Staphylococcus aureus; Sering ditemukan pada pasien immunocompromised

·         Lymphogenic : Rute infeksi ini masih memiliki bukti scientific yang minimal.

2.      Host-defence

Normalnya, ISK dapat dicegah dengan adanya proses wash-out oleh saluran kemih sehingga bakteri-bakteri yang ada dapat dikeluarkan melalui urin. Di dalam urin juga terdapat pH, osmolalitas, dan kadar urea yang dapat menghambat perkembangan bakteri.Jika mekanisme pertahanan host tersebut terganggu, misalkan akibat retensi urin, statis atau refluks urin, bakteri-bakteri tersebut dapat berkembang biak dan berkolonisasi sehingga bisa menimbulkan infeksi.



E.      Penatalaksanaan Keperawatan

1.      Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan

Nyeri dan ketidaknyamanan dapat dikurangi dengan ketika antimikrobia dimulai. Agen antispamodic mebantu dalam mengurangi iritabilitas kandung kemih dan nyeri. Aspirin, pemanasan perineum dan mandi rendam panas membantu mengurangi ketidaknyamanan dan spasme.

2.      Mengurangi frekuensi (berkemih), urgency dan hesitancy

Pasien didorong untuk minum dengan bebas sejumlah cairan (air adalah pilihan terbaik) untuk mendukung aliran darah renal dan untuk membilas bakteri dari traktur urinarius. Hidari cairan yang dapat mengiritasi kandung kemih (misal ; kopi, teh, cola, alkohol).

3.      Pendidikan pasien

Pasien harus menerima perncian instruksi berikut :

a.      Mengurangi konsentrasi patogen pada orifisium vagina (khusus pada wanita) melalui tindakan hygnie : seing mandi pancuran dari pada rendam karena bakteri dalam air bak dapat masuk ke uretra, bersihkan sekeliling perineum dan meatus uretra setiap selesai defekasi dengan gerakan dari depan ke belakang.

b.      Minum dengan bebas sejumlah cairan dalam sehari untuk membilas keluar bakteri dan hindari untuk minum kopi, teh, cola dan alkohol.

c.       Berkemih setiap 2-3 jam dalam sehari dan kosongkan kandung kemih dengan sempurna hal ini mencegah distensi kandung kemih yang berlebihan dan gangguan terhadap suplai darah ke dinding kandung kemih yang merupakan predisposisi systitis.

d.      jika bakteri tetap muncul dalam urin, terapi antimikrobia jangka panjang diperlukan untuk mencegah kolonisasi area periuretral dan kekambuhan infeksi.

e.      Konsul ke tenaga kesehatan secara teratur untuk tindak lanjut, kekambuhan gejala atau infeksi nonresponsif terhadap penanganan.



F.     Pemeriksaan Penunjang



1.      Urinalisis

·         Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih

·         Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.

2.      Bakteriologis

·       Mikroskopis

·       Biakan bakteri

3.      Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik

4.      Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.

5.      Metode tes

·         Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif  jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.

·         Tes Penyakit Menular Seksual (PMS):

·         Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).

·         Tes- tes tambahan:

·         Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.





G.     Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian

a.      Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe

b.      Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko:

·    Adakah riwayat infeksi sebelumnya?

·    Adakah riwayat obstruksi pada saluran kemih?

c.       Adanya faktor predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial

·    Bagaimana dengan pemasangan folley kateter ?

·    Imobilisasi dalam waktu yang lama.

·    Apakah terjadi inkontinensia urine?

d.      Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih

·         Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan, frekuensi, dan jumlah) 

·         Adakah disuria?

·         Adakah urgensi?

·         Adakah hesitancy?

·         Adakah bau urine yang menyengat?

·         Bagaimana haluaran volume orine, warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine?

·         Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah

·         Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas

·         Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas.

e.      Pengkajian psikologi pasien:

·         Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan? Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya.



2.      Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul

·         Nyeri Berhubungan dengan ISK

·         Perubahan Eliminasi Urine

·         Defisit Pengetahuan yang Berhubungan dengan Terapi dan Pencegahan ISK

·         Ansietas mengenai efek ISK

Rencana Keperawatan :



No
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Tujuan
Intervensi
Rasionalisasi
1.
Nyeri Berhubungan dengan agen cedra biologis
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam klien diharapkan dapat mencapai pain control dengan kriteria hasil :
-     Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) dari skala ... ke ...
-     Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri dari skala ... ke ...
-     Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas,  frekuensi dan tanda nyeri) dari skala ... ke ...
-     Mengatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang dari skala ... ke ...
-     TTV dalam rentang normal dari skala ... ke ...
-           
Pain manajemen :
1. lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2. observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
3. gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
4. kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
5. evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.
1. untuk menentukan tindakan selanjutnya terkait nyeri.
2. untuk mengetahui apakah reaksi verbal yang dinyatakan sesuai dengan reaksi non verbal.
3. supaya klien merasa nyaman saat berinteraksi , sehingga lebih mudah mendapatkan informasi.
4. untuk mengetahui apa yang menyebabkan timbulnya nyeri, sehingga dapat menentukan tindak lanjut.
5. supaya dapat membandingkan antara nyeri yang sedang dialami dengan nyeri masa lampau.
2.
Perubahan Eliminasi Urine berhubungan dengan ISK
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam klien diharapkan dapat mencapai urinary elimination dengan kriteria hasil:
-          Pola eliminasi dari skala ... ke ...
-          Bau urine dari skala ... ke ...
-          Jumlah urine dari skala ... ke ...
-          Warna urine dari skala ... ke ...
-          Kejernihan urine dari skala ... ke ...
-          Asupan cairan dari skala ... ke ...
-          Disuria dari skala ... ke ...
-          Urgensi perkemihan dari skala ... ke ...
Urinary elimination management:
1.      Memonitor eliminasi urine termasuk frekuensi, bau, volume, dan warna
2.      Memonitor tanda dan gejala retensi urine
3.      Beri tahu pasien tanda dan gejala ISK pasien
4.      Anjurkan pasien untuk memantau keluaran urine
5.      Rujuk ke dokter jika tanda dan gejala ISK terjadi.
1.      Untuk mengetahui warna, frekuensi, bau, volume, dan warna
2.      Untuk mengetahui tanda dan gejala retensi urine
3.      Supaya pasien mengetahui tanda dan gejala ISK
4.      Agar pasien untuk mengetahui seberapa banyak dan seberapa sering keluaran urine
5.      Untuk mendapatkan penanganan segera bila terjadi ISK.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar